Sabtu, 04 Oktober 2008

ANGIN BAHOROK

FENOMENA ANGIN BAHOROK


Ir. Darsiman B, MS

Angin Bahorok sebenarnya adalah angin Fohn yang terjadi di Deli Sumatera Utara. Fenomena terjadinya angin Bahorok ini tidak terlepas dengan terjadinya angin Monsun Tenggara, yang di Sumatera Utara berubah menjadi angin monsun Barat Daya.

Angin Bahorok adalah massa udara yang telah kehilangan uap airnya dibagian atas angin dari pegunungan, jatuh dengan kecepatan besar di sebelah bawah angin dari pegunungan itu sebagai angin panas yang kering. Terjadinya angin bahorok oleh karena gerakan massa udara (angin Monsun, Gambar terlampir) ditahan oleh pegunungan bukit barisan sehigga udara itu dipaksa naik ke atmosfir lebih tinggi dan dipaksa melakukan kondensasi, dimana gradien temperatur udara basah lebih kecil dari pada gradien temperatur udara kering. Kondensasi yang terjadi oleh pendakian udara basah akan melepaskan sejumlah panas latent (yaitu panas uap) dan panas ini diterima oleh udara itu sendiri (proses adiabatis). Oleh karena itu disamping terjadi pendinginan selama pendakian udara itu juga mengalami pemanasan dari penyerahan panas latent itu, sehingga gradien temperaturnya berkurang. Gradient temperatur adiabatik kering 0,9 ° C/100 meter dan gradient adiabatik basah 0,6 ° C/100 meter.

Fenomena ini dapat diperjelas sbb;
Udara bertiup (angin monsun barat daya, Gambar terlampir) dari pantai barat Sumatera Utara mendaki pegunungan bukit barisan, dipaksa melakukan kondensasi, sepanjang jalan dan disana sini uap air jatuh menjadi hujan atau tinggal sebagai awan. Jika sebelum udara melewati puncak bukit barisan seluruh uap air tinggal sebagai awan atau jatuh sebagai hujan suhunya akan turun 0,6 ° C/100 meter, sedangkan udara yang tinggal akan terus bergerak dengan kecepatan tinggi melewati bukit barisan dan akan turun ke pantai timur Sumatera Utara, dimana suhunya akan naik 0,9° C/100 meter penurunan . Dengan demikian udara yang sampai di daratan pantai timur (bawah angin) akan menjadi lebih panas dan kering dari asalnya.

Fenomena ini dapat dicontohkan dengan angka-angka sbb(seperti Gambar terlampir);
Pada bulan April-Oktober bertiup angin monsun barat daya di Sumatera Utara mendaki lereng bukit barisan mengandung uap air yang tinggi dari lautan Hindia. Jika tinggi bukit barisan ± 2500 meter dari permukaan laut dan Langkat 100 meter dpl, seandainya suhu awal dipantai barat 28,0 ° C naka selama pendakian temperatur turun menurut adiabatik basah (0,6° C/100 meter), sehingga suhu dipuncak bukit barisan menjadi :

Tp = 28,0 - 2500 x 0,6/100 = 13 ° C.

Penurunan massa udara dari puncak pegunungan menuju Langkat suhu akan naik menurut adiabatik kering (0,9 ° C/100 meter) sehingga suhu di Langkat menjadi

T = 13 + (2500-100) x 0,6/100 = 34,6 ° C.

jadi suhu yang tadinya 28.0° C setelah melewati gunung berobah menjadi 34,6° C di Langkat. Pada gerakan menurun bawah angin dipercepat lagi oleh gaya beratnya sendiri sehingga gerakan jatuhnya menjadi lebih kencang, oleh pemampatan massa udara akan menjadi lebih panas lagi. Akibatnya akan memperbesar laju evaporasi dan transpirasi, sehingga tembakau yang masih muda akan langsung layu. Karena arahnya selalu dari barat daya dari Langkat, dan disana ada desa Bahorok, maka disebut orang Angin Bahorok.

3 komentar:

kenangan ku mengatakan...

salam
saya mohon izin kutip tulisan bapak

kenangan ku mengatakan...

salam
izin mengutip tulisan bapak

OtoBasuki mengatakan...

salam kenal dan izin kutip, terima kasih