Sabtu, 04 Oktober 2008

PENGARUH AKTIVITAS MANUSIA TERHADAP IKLIM DAN LINGKUNGAN ATMOSFIR

Ir. H. Darsiman B, MS

PENDAHULUAN

Secara umum Indonesia berada di daerah tropis yang terletak pada posisi diantara dua benua, Benua Asia dan Benua Australia, serta dua samudera, Samudera Pasifik dan Samudera Indonesia. Atau disebut juga Indonesia terbentang dari Tropics of Cancer di Belahan Bumi Utara hingga Tropic of Capricorn di Belahan Bumi Selatan. Di dalam wilayah ini tidak ditemui adanya musim dingin. Selain itu di wilayah ini juga ditandai dengan adanya suhu rata-rata diatas muka laut > 18 oC dalam bulan terdingin (Nieuwolt, 1977). Tepatnya secara geografis wilayah Indonesia disebut sebagai maritime continent (Ramage, 1971) yang terletak dalam luasan antara 06º 05’ LU – 10º 25’ LS dan 95º 06’ – 143º 41’ BT (Sandy,1995)
Untuk mempelajari sistem cuaca Indonesia yang unik dan komplek kita perlu memperhitungkan sistem peredaran umum atmosfir Indonesia. Dua komponen peredaran umum yang ikut mempengaruhi sistem cuaca Indonesia yaitu peredaran utara selatan (meridional) yang disebut sebagai peredaran Hadley (sirkulasi Hadley) yang wujudnya dikenal sebagai monsun (angin musim). Monsun Asia Musim Dingin umumnya berkaitan erat dengan musim hujan di Indonesia, sedangkan monsun Australia Musim Dingin bertalian erat dengan terjadinya musim kemarau di wilayah Indonesia (Sulistya, 1995). Dan peredaran barat timur (zonal) yang lazim disebut sebagai peredaran Walker (Sirkulasi Walker). Selain itu fenomena global seperti El-Nino dan La-Nina yang bersumber di lautan Pasifik serta Dipole Mode Event (DME) yang bersumber di lautan Hindia yang akhir akhir-akhir ini makin kerap terjadi ikut mempengaruhi kondisi cuaca/iklim Indonesia.

Proses hidup organisme dimuka bumi ini dipengaruhi oleh faktor genetis dan faktor lingkungan. Faktor lingkungan terdiri dari faktor biotik (biotic factor) dan faktor abiotik (abiotic factor), faktor abiotik terdiri dari faktor tanah dan faktor cuaca/iklim di atmosfir. Faktor genetis tanaman dan hewan dengan tingkat teknologi yang ada telah dapat direkayasa manusia, demikian juga faktor tanah, tanah-tanah tidak produktif telah dapat dimanfaatkan manusia dengan berbagai masukan teknologi. Namun faktor cuaca/iklim hingga dewasa ini belum mampu direkayasa manusia kecuali dalam skala mikro seperti pembuatan rumah kaca. Setiap organisme kehidupannya telah tertentu keadaan cuaca/iklim yang sesuai, dengan demikian jika terjadi perubahan pada unsur cuaca/iklim tersebut jelas akan berdampak negative terhadap organisme tersebut.
Sejak tahun 1950-an masalah lingkungan telah mendapat perhatian masyarakat, yang dipicu oleh terjadinya pencemaran limbah industri dan pertambangan serta pestisida oleh air raksa (Hg) dan cadmium (Cd) dari limbah industri di Jepang. Pencemaran tersebut telah menyebabkan penyakit minamata akibat mengkonsumsi ikan yang ditangkap diteluk Minamata yang tercemar Hg, dan penyakit ital-ital akibat mengkonsumsi beras dari lahan sawah di Jepang yang tercemar Cd
Tahun 1969 masyarakat Amerika telah bereaksi menentang terhadap kerusakan lingkungan yang disebabkan aktivitas manusia. Reaksi ini mencapai keadaan ekstrim sampai menimbulkan sikap yang menentang pembangunan dan penggunaan teknologi tinggi. Para aktivis lingkungan menjadi lawan bagi perencana pembangunan pada masa itu. Akhirnya di Amerika muncul AMDAL sebagai syarat mutlak izin mendirikan pembangunan dengan penggunaan teknologi canggih, yang oleh sebagian orang dianggap sebagai penentang atau penghambat pembangunan. Ironisnya karena persyaratan AMDAL cukup berat akhirnya negara maju berupaya memindahkan penanaman modalnya dalam Industri teknologi tinggi ke negara yang sedang berkembang. Negara berkembang memang membutuhkan pembangtunan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dan belum banyak menyadari kerusakan lingkungan sebagai dampak dari pembangunan tersebut (terutama kerusakan lingkungan Amosfir dan Tanah serta Air) (Soemarwoto, 1990).
Energi radiasi matahari yang sampai kebumi sebagian besar berupa radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini sampai kepermukaan bumi, energi ini berubah dari cahaya menjadi panas dan menghangatkan bumi. Permukaan bumi akan memantulkan kembali sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa, sebagiannya tetap terperangkap di atmosfir bumi. Gas-gas tertentu di atmosfir termasuk uap air, CO2, CH4 menjadi perangkap radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi yang dipancarkan bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan bumi. Gas-gas tersebut berfungsi sebagai kaca dalam rumah kaca, mampu ditembus radiasi gelombang pendek tetapi tidak mampu ditembus radiasi gelombang panjang, sehingga gas-gas ini dikenal sebagai gas rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfir, semakin banyak panas yang terperangkap dibawahnya.
Semua kehidupan di bumi tergantung pada efek rumah kaca ini, karena tanpanya planet ini akan sangat dingin sehngga es akan menutupi seluruh permukaan bumi. Akan tetapi bila gas-gas ini semakin banyak di atmosfir, akibatnya adalah pemanasan bumi yang terus berlanjut. Dari berbagai laporan menyebutkan yang tergolong gas-gas rumah kaca selain Uap air, CO2 dan CH4 termasuk juga N2O, CFC, CO, NOx, juga gas-gas organik non metan yang volatil (mudah menguap), yang umumnya bersumber dari penggunaan bahan bakar fosil.

IKLIM DAN ATMOSFIR
Dalam mengenal serta memahami sifat-sifat cuaca dan iklim di alam, kita dihadapkan dengan beberapa pengertian yang satu sama lain saling terkait‚ antar lain; Iklim‚ adalah keadaan cuaca rata-rata dalam periode waktu yang panjang pada suatu wilayah tertentu. Ilmu yang mempela­jari iklim disebut Klimatologi. Sedangkan cuaca‚ adalah peris­tiwa fisika yang terjadi di atmosfir, atau keadaan atmosfir pada suatu saat. Dan ilmu yang mempelajari cuaca disebut Meteorologi. Atmosfir‚ atau Atmosfera berasal dari bahasa Yunani "Atmos" yang berarti uap air atau gas dan "Sphaira" yang berarti keadaan sekitarnya atau selimut. Jadi atmosfir dapat diartikan selubung gas, atau selimut gas yang disekitar bumi. Teranglah bahwa pengenalan cuaca dan iklim menyangkut semua peristiwa yang terjadi di atmosfir yang diantaranya radiasi surya, suhu udara, tekanan udara, angin, hujan dan awan, kelembaban udara, penguapan, keseluruhannya disebut juga unsur-unsur cuaca. Peristiwa-peristiwa yang terjadi untuk daerah yang sempit atau disekitar lokasi usaha tertentu disebut iklim mikro (micro climate) (Darsiman, 2000, 2007).
Karena iklim merupakan rata-rata dari cuaca maka unsur-unsur iklim sama dengan unsur-nsur cuaca.
Unsur-unsur cuaca/iklim tersebut satu sama lain saling mempengaruhi dan saling mengendalikan. Sebagai unsur pengendali cuaca/iklim antara lain:

1. Radiasi matahari
2. Suhu udara
3. Kelembaban udara (Relative Humidity= RH)
4. Tekanan udara
5. Angin
6. Ketinggian tempat (elevasi)
7. Penyebaran daratan dan lautan
8. Gangguan-gangguan atmosfir
9. Fenomena-fenomena iklim global, dsb.

Akibat adanya unsur-unsur pengendali iklim diatas maka masing-masing unsur cuaca/iklim berbeda dari suatu tempat ketempat lain atau dari waktu ke waktu dari setiap jengkal lahan secara mikro dibumi ini (Darsiman, 2007).
Untuk mempermudah mempelajari iklim maka para pakar sejak lama telah mengupayakan menyusun suatu penggolongan (klasifikasi) iklim yang efektif dan efisien. Klasifikasi yang sangat lengkap akan mempunyai efektivitas yang sangat tinggi, namun sangat sulit dan kurang efisien atau kurang memiliki arti praktis yang tinggi. Klasifkasi yang terlalu sederhana akan kurang efektif karena kurang cermat walaupun gampang dimengerti dan sangat praktis. Sangat banyak klasifikasi iklim didunia ini sesuai kebutuhan masing-masing negara. Namun sistem klasifikasi yang paling banyak digunakan di Indonesia antara lain:
Sistem Klasifikasi Koppen (klasifikasi Iklim Dunia). Dasar penyusunannnya Curah Hujan, Suhu, kelembaban tanah/vegetasi
Sistem Klasifikasi menurut Schmidt & Ferguson. Dasar penyusunannya berdasarkan jumlah bulan basah dan jumlah bulan kering. Bulan Basah curah hujan >100 mm, bulan kering curah hujan <60.

DAMPAK PEMBANGUNAN TERHADAP IKLIM DAN ATMOSFIR
Laju degradasi kualitas dan kuantitas lingkungan berlangsung sangat cepat dan telah mengkhawatirkan. Salah satu penyebabnya, buruknya pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan. Kegiatan eksploitasi komersil secara besar-besaran menjadi penyebab kerusakan sumber-sumber kehidupan yang ada di bumi. Sampai Juli 2008 tidak sedikit informasi kemarahan alam karena kerusakannya, banjir dan tanah longsor di Kalimantan, Sulawesi, Sumatera Utara, angin puting beliung, kekeringan yang melanda Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT, NTB, dan lain-lain yang secara nyata telah merugikan harta benda dan nyawa masyarakat dan negara yang tidak ternilai harganya. Banyak pihak yang menyadari hal tersebut tapi sangat sedikit yang peduli dan berani mengatakan “hentikan perusakan lingkungan”. Kegiatan eksploitasi lingkungan yang hanya memberikan sedikit manfaat dari segelintir orang harus dibayar mahal oleh negara ini, dan sudah saatnya kebodohan ini dilarang dan dihentikan dengan segera. Tidak ada yang membantah, banjir dan longsor disebabkan karena curah hujan tinggi. Hujan akan turun ketika angin membawa uap air yang disebut awan. Jika terjadi hujan abnormal dan daya dukung lingkungan rendah, maka hujan dapat menyebabkan bencana. Jika terjadi kerusakan satu komponen lingkungan akan mempengaruhi komponen lingkungan yang lain. Kerusakan hutan akan berdampak pada menurunnya tingkat kesuburan tanah, erosi, longsor, suhu udara semakin tinggi, tiupan angin semakin kencang, penguapan dari tanah dan air meningkat, perubahan suhu, dan peningkatan curah hujan. Perubahan iklim yang abnormal seperti saat ini, yang tidak jelas batas musim hujan dan musim kemarau merupakan bukti nyata kegagalan pengelolaan lingkungan di Bumi ini. Pada saat ini, Bumi menghadapi pemanasan yang cepat, yang oleh para ilmuan dianggap disebabkan aktivitas manusia. Penyebab utama pemanasan ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas CO2 dan gas-gas lainnya seperti CO, N2O, NOx, SO2, kegiatan manusia lainnya juga menghasilkan CFC dari AC dan gas Aerosol (seperti untuk kecantikan dan minyak wangi), serta aktivitas pengolahan gambut juga menghasilkan CH4, yang semuanya dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfir. Ketika atmosfir semakin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak energi panas yang dipantulkan bumi. Dalam laporan yang dikeluarkan tahun 2001, Intergovermenal Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa temperatur udara global telah meningkat 0,6 oC sejak tahun 1861. Panel setuju bahwa pemanasan tersebut terutama disebabkan oleh aktivitas manusia yang menambah gas-gas rumah kaca ke atmosfir. IPCC memprediksi peningkatan temperatur rata-rata global akan meningkat 1,4-5,8 oC pada tahun 2100. Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian utara dari belahan bumi utara (BBU) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis , bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mancair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat. Pemanasan global (global warming) adalah peningkatan secara gradual suhu permukaan global akibat efek emisi gas rumah kaca (terutama CO2) dari aktivitas manusia (antropogenik). Akibat pemanasan global terjadinya perubahan iklim (climate change). Perubahan iklim dapat mencairkan es di kutub, terjadi perubahan arah dan kecepatan angin, meningkatkan badai atmosfir, seperti angin puting beliung, gelombang pasang, meningkatkan intensitas petir, perubahan pola tekanan udara, perubahan pola curah hujan (banjir dan longsor serta kekeringan), dan siklus hidrologi, serta perubahan ekosistem, hingga bertambahnya jenis organisme penyebab penyakit. Dampak dari banjir dan longsor terjadi erosi yang merusak lahan-lahan subur, terjadinya sedimentasi di sungai, danau dan laut, pendangkalan sungai yang makin mempermudah banjir. Kenaikan permukaan air laut baik oleh sedimentasi maupun oleh mencainya es di kutub, akan terjadi intrusi air laut. Intrusi berakibat air tanah menjadi asin yang dapat merusak tanah dan tanaman. Yang lebih mengerikan lagi laut akan merendam lahan pertanian di dataran rendah serta pemukiman penduduk.. Penyebab pemanasan global dan perubahan iklim adalah meningkatnya gas rumah kaca (GRK) di atmosfir oleh penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak, gas dan batubara. Serta diperparah oleh perubahan lingkungan, rusaknya hutan, tidak adanya kawasan penyangga baik dipantai maupun di daratan. Pemanasan global dan perubahan iklim sangat sulit untuk dihambat namun dampaknya dapat diperlambat terhadap lingkungan bumi. Mitigasinya (pencegahan) kurangi penggunaan bahan bakar fosil. Hentikan penebangan hutan, hutankan kembali kawasan yang telah rusak dan daerah pantai. Lakukan adaptasi disemua sektor terhadap lingkungan iklim yang telah berubah. CFC yang dihasilkan dari aktivitas manusia, seperti pengguanaan AC, aerosol, bom, dalam peperangan, pesawat jet supersonik, uji coba senjata nuklir, dapat merusak Ozon di atmosfir, rusaknya ozon dapat merubah kualitas dan kuantitas solar radiasi. Selain itu rusaknya ozon akan bertambahnya sinar ultra violet yang sampai kebumi yang akan meningkatkan suhu bumi, dapat meningkatkan penyakit katarak pada mata, kangker kulit. Berubahnya kualitas dan kuantitas solar radiasi dapat menyebabkan iklim menjadi tidak normal, tejadinya degradasi energi matahari yang pada akhirnya dapat merubah ekosistem, spesies tanaman dan hewan, yang akhirnya akan merubah produksi pertanian yang akan berdampak destabilisasi produk hasil pertanian. Asam belerang (SO2) dapat menyebabkan hujan asam, yang dapat meningkatkan kemasaman tanah yang akhirnya tejadi degradasi tanah dan degradasi air. Yang pada akhirnya akan merubah ekosistem. Selain itu hujan asam dapat menyebabkan penyakit pada manusia seperti penyakit batuk, tulang dan buah pinggang. Air laut dan sungai yang menjadi asam dapat membunuh akuatik air seperti ikan, Vegetasi tertentu akan mati, mempercepat usia bangunan dan cat serta merusakkan semua bahan yang terbuat dari besi. Dari hasil pengamatan di Medan, ternyata air hujan di Medan telah asam, sebagaimana data dalam Tabel 1 berikut ini. Karbon dioksida (CO2) dapat menyebabkan pemanasan global, akan meningkatkan suhu udara dan meningkatkan suhu tanah sehingga iklim tidak normal dan terjadinya degradasi tanah yang akan merubah ekosistem. CFC, SO2 dan CO2 diatmosfir akan menyebabkan efek rumah kaca (green hause effect =GHE) yang menyebabkan pemanasan global dan penyimpangan iklim.
Tabel 1. Rataan pH, sulfat, nitrat air hujan, SPM dan curah hujan di Sampali Medan tahun 2005


Gambar 1. Rataan pH air hujan di Sampali Medan dari Januari-Desember Gambar 2. Rataan Suspention Partikel Matter (SPM) dan Curah Hujan Sampali Medan
1. Penyinaran Matahari National Environmental Policy Act (NEPA) 1969 di Amerika Serikat merupakan suatu reaksi terhadap kerusakan lingkungan oleh aktivitas manusia yang makin meningkat, antara lain tercemarnya lingkungan oleh pestisida serta limbah industri dan transportasi, rusaknya habitat tumbuhan dan hewan langka, serta menurunnya nilai estetika alam. Misalnya sejak permulaan tahun 1950-an Los Angeles telah terganggu oleh kabut asap yang menyelubungi kota mengganggu kesehatan dan merusak tanaman. Kabut asap tersebut berasal dari gas limbah kendaraan dan pabrik yang mengalami fotooksidasi dan terdiri atas ozon, peroksiasetil nitrat, nitrogenoksida dan zat-zat lain (Soemarwoto, 1990). Disamping merusak kesehatan dan lingkungan kabut asap akan menghalangi radiasi matahari sampai kepermukaan bumi, dan akan mengurangi laju fotosintesa tanaman dan akan menurunkan produksi. 2. Suhu Udara Terjadinya peristiwa iklim ekstrim seperti badai, banjir, dan kekeringan di berbagai belahan bumi selama dua dekade terakhir dicurigai disebabkan oleh adanya proses pemanasan global (global warming) akibat meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfir seperti CO2, CH4, NOx , NO, CFC dan NO2. Hardjawinata (1997) menyatakan kegiatan manusia dengan revolusi industrinya ditambah dengan pertumbuhan penduduk yang sangat cepat mempengaruhi mundurnya kualitas lingkungan hidup. Salah satu diantaranya meningkatnya gas rumah kaca yang pada gilirannya meningkatkan suhu udara dipermukaan bumi. Titus dan Seidel (1986) menulis bahwa suhu udara pada zaman es 5 oC lebih rendah dari sekarang. Sedangkan IPCC (1990) melaporkan dalam seratus tahun terakhir telah terjadi kenaikan suhu 0,3 – 0,6 oC. Darsiman (1994, 1995) juga melaporkan perubahan iklim terutama pemanasan global dengan meningkatnya suhu udara ternyata telah merambah ke kota Medan. Peningkatan lebih tajam terjadi sejak 1986. Antara tahun 1966 hingga 1996 peningkatan suhu setiap bulannya bervariasi antara 0,3-0,7 oC. 3. Unsur Cuaca Lainnya Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa sebagian besar unsur cuaca bersifat sebagai pengendali cuaca dan iklim, dengan kata lain unsur cuaca saling mempengaruhi unsur-unsur cuaca lainnya. Terjadinya pemanasan akibat peningkatan konsentrasi gas rumah kaca pada suatu kawasan, akan berdampak Peningkatan suhu udara di kawasan itu, peningkatan suhu udara akan menurunkan Tekanan Udara. Menurunnya tekanan udara angin akan bergerak dari daerah sekitarnya kelokasi itu, makin tinggi perbedaan tekanan udara kecepatan angin akan semakin kuat. Angin yang bertabrakan pada suatu kawasan akan terjadi konveksi, udara akan naik membubung ke troposfir atas yang akan membentuk awan. Tipe awan yang terbentuk oleh akibat ini disebut tipe awan konvektif atau jenis Cumulonimbus (Cb). Karena dikawasan itu telah diawali oleh gas-gas rumah kaca sebagai polutan di atmosfir, jika awan tadi berubah manjadi hujan akan terjadi hujan asam, dimana akan jatuhnya hujan tersebut tergantung dari mana datangnya arah angin serta kecepatan angin atas, dan sampai dimana terjadi pendinginan maksimum. Sebelum awan Cb berubah manjadi hujan akan diawali oleh petir dan angin puting beliung yang belakangan ini makin kerap terjadi. Kejadian petir ini selalu mengancam peralatan elektronik masyarakat termasuk telepon. Dari berbagai hasil pengamatan BMG dewasa ini petir dan angin puting beliung tidak lagi sopan muncul sebagai ciri khas terbentuknya awan Cb yaitu saat sore menjelang senja. Disiang bolongpun sering muncul yang mema
tahkan pepatah kuno “ibarat petir disiang bolong”. Dampak yang pasti telah banyak dirasakan masyarakat angin puting beliung memporak porandakan rumah masyarakat. Akibat pemanasan global lapisan troposfir semakin tebal yang kemampuannya menampung uap air semakin tinggi, dengan dibarengi oleh suhu yang semakin tinggi penguapan akan semakin meningkat. Makin tinggi penguapan walaupun curah hujan normal air tanah lebih banyak menguap dan air tanah tidak cukup lagi untuk tanaman. Yang paling merisaukan adalah distribusi curah hujan makin tidak menentu, ada daerah menjadi lebih kering, dan ada daerah menjadi lebih basah sehingga berpeluang muncul bencana banjir (Salim, 1992). Dampak lain adalah air tanah makin berkurang, sedangkan pengambilan oleh manusia makin meningkat sehingga permukaan air tanah menurun yang dapat mencapai lebih rendah dari permukaan air laut, yang akan terjadi adalah intrusi air laut, sehingga air tanah menjadi asin lahan menjadi rusak, tidak sesuai lagi untuk berbagai jenis tanaman yang akan menurunkan produksi, serta membunuh berbagai satwa mikro tanah yang tidak toleran dengan kondisi asin.

UPAYA PEMERINTAH MENGATASI KERUSAKAN LINGKUNGAN
Laporan Kurnia, dkk (2004) salah satu penyebab pencemaran atmosfir adalah kegiatan industri, pertambangan, pertanian/perkebunan besar, yang tetap berjalan tanpa hambatan. Terjadinya pemanasan global akibat meningkatnya gas-gas rumah kaca yang dihasilkan oleh penggunaan bahan bakar fosil terutama oleh industri dan kendaraan bermotor seperti CO2, CFC, CH4, O3 dan N2O berdampak mencairnya es dikutub sehingga muka laut makin naik, yang meningkatkan laju intrusi dan menenggelamkan desa-desa pantai dan meningkatkan abrasi pantai. Hujan asam akan terjadi yang akan merusak lingkungan yang tidak toleran, menurunkan usia bangunan dan jembatan yang terbuat dari semen karena larut oleh asam secara kimiawi. Dalam laporan yang sama Kurnia, dkk (2004) menyajikan kandungan bahan pencemar dan logam berat dalam tanah, dari jaringan tanaman dan beras yang menggunakan air yang tercemar limbah industri tekstil sebagai air pengairan secara terus menerus diantaranya Cu, Zn, Pb, Cd, Co, Cr, dan Ni. Walaupun tidak menurunkan hasil peranian secara nyata namun bila bahan beracun tersebut masuk kedalam rantai makanan dan secara periodik dikonsumsi manusia, bisa menyebabkan gangguan kesehatan. Yang pasti dewasa ini dipermukaan bumi telah muncul bermacam penyakit aneh baik manusia maupun hewan dan tanaman, yang masih diselidiki penyebabnya. Arah angin nampaknya perlu dipertimbangkan dalam AMDAL sebelum lokasi Industri disetujui, agar polutan tidak terbawa oleh angin ke lokasi pemukiman. Artinya data dan hasil pengamatan BMG semestinya dimanfaatkan dalam menyusun AMDAL. Badan Meteorologi dan Geofisika telah memiliki 37 stasiun pemantau kualitas udara yang tersebar di 26 propinsi diseluruh Indonesia. Satu diantaranya merupakan jaringan Stasiun Global Atmospheric Watch (GAW) berlokasi di Bukit Koto Tabang Bukittinggi yang mampu menjangkau pengamatan ASEAN, 31 stasiun merupakan jaringan stasiun regional disebut Background Air Pollution Monitoring Network (BAPMon), dan 5 stasiun merupakan jaringan stasiun lokal/perkotaan. Dalam upaya pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan pemerintah telah mengeluarkan berbagai peraturan, seperti telah diberlakukan UU RI No 23 thn 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, PP No 27 tahun 1997 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, Keputusan Menteri Negara LH No 30 tahun 1999 tentang Panduan Penyusunan Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup. Secara praktis langkah-langkah untuk mengatasi dampak pembangunan terhadap kondisi iklim dan atmosfir dapat diusulkan sebagai berikut; 1. Secara berahap mengganti CFC dengan bahan lain seperti Helium untuk keperluan AC, lemari es dan penyemprot aerosol. 2. Menyaring asap dari industri dengan alat tertentu untuk mengelakkan Efek Rumah Kaca yan menyebabkan kenaikan suhu dan hujan asam. 3. Penggunaan bahan bakar untuk kendaraan yang tidak mengandung timah hitam (Pb). 4. Gunakan kendaraan elektronik 5. Cegah pembalakan hutan, lakukan reboisasi 6. Gunakan unsur iklim terutama arah dan kecepatan angin dalam merancang lokasi pabrik, agar emisi gas buangan tidak mencemari perkotaan dan pemukiman.

KESIMPULAN
Dari bebagai penjelasan diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan: 1. Untuk mempelajari cuaca Indonesia yang unik dan komplek perlu mempertimbangkan sistem peredaran udara umum atmosfir Indonesia. 2. Atmosfir dewasa ini telah tercemar oleh limbah industri, yang berdampak terjadinya pemanasan global, dan perubahan iklim. 3. Dunia terutama Jepang telah menyadari sejak tahun 1950-an, dan Amerika tahun 1969 dimana masyarakatnya telah menentang pembangunan berteknologi tinggi. 4. Indonesia juga telah mengeluarkan UU RI no 23 th 1997 dan PP No 27 tahun 1997, serta Kepmen LH No 30 tahn 1999, untuk mencegah kerusakan lingkungan. 5. BMG telah memiliki 37 stasiun pemantau kualitas udara di 26 Propinsi di Indonesia, kiranya perlu diberdayakan datanya untuk memantau dampak perubahan Iklim dan Atmosfir oleh limbah aktivitas manusia. 6. Secara berahap mengganti CFC dengan bahan lain seperti Helium untuk keperluan AC, lemari es dan penyemprot aerosol. 7. Menyaring asap dari industri dengan alat tertentu untuk mengelakkan Efek Rumah Kaca yan menyebabkan kenaikan suhu dan hujan asam. 8. Penggunaan bahan bakar kendaraan yang tidak mengandung timah hitam (Pb). 9. Gunakan kendaraan elektronik 10. Cegah pembalakan hutan, dengan kepastian hukum, lakukan reboisasi. 11. Gunakan unsur iklim terutama Arah dan Kecepatan Angin dalam merancang lokasi pabrik, agar emisi gas buangan tidak mencemari perkotaan dan pemukiman, dan perlunya interpretasi data iklim dalam setiap rancangan AMDAL.

DAFTAR PUSTAKA
Darsiman, B. 2007. Agroklimatologi. Fakultas Pertanian UISU , Medan
Darsiman, B. 2006. Klimatologi. STIP-AP, LPP Medan
Darsiman, B. 2000. Dasar-Dasar Klimatologi. FP-UPMI, Medan.
Darsiman, B. 1994. Isu Perubahan Iklim Bumi dan Pola Pemantauan Suhu Udara di Medan. Makalah disajikan dalam Seminar Sehari HMD BMG Wil.I Medan, 7 April 1994. 18 pp
Darsiman, B. 1995. Perubahan Iklim Bumi dan pengaruhnya terhadap Pertanian. Makalah disajikan dalam Seminar Ilmiah FKK-HIMAGRI KTW.I di FP-UISU Medan, 14 Okt 1995.
Cheung, P. 1992. Land Use and Lend Use Cover Change: A Project on Human Dimension of Global Change. In Proceedings of Asian Symposium on Global Environmental Change. Tokyo, 1-2 December 1992. p. 91-104
Hardjawinata, S. 1997. Perubahan Iklim Bumi. Dalam Sumber Daya Air dan Iklim Dalam Mewujudkan Pertanian Efisien. Kerjasama Deptan dengan PERHIMPI. Bogor
IPCC. 1990. Intergovermental Panel on Climate Change. WMO, UNEP.
Kurnia, U., J. Sri Adiningsih., dan A. Abdurachman. 2004. Strategi Pencegahan dan Penaggulangan Pencemaran Lingkungan Pertanian. Pros. Seminar Nasional Peningkaan Kualitas Lingkungan dan Produk Pertanian. IPB Bogor
Nieuwolt, S. 1977. Tropical Climatology. John Willey and Sons Inc. New York. Ramage, C. S. Monsoon Meteorology. Academic Press Inc. International Geophysics Series, Vol. 15.
Salim, E. 1992. Dampak perubahan iklim terhadap keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya alam pertanian. Pros. Simposium Meteorologi Pertanian III, Malang 20-22 Agustus 1991. PERHIMPI, Bogor. Hal: 1-3.
Sandy, I. M. 1995. Republik Indonesia. Penerbit PT Indografi Bakti dan Jurusan Geografi FMIPA-UI, Cetakan ke-7
Soemarwoto, O. 1990. AMDAL. Gajahmada University Press. Yogyakarta.
Sulistya, W. 1995. Application D’une Methode D’analyse Factorielle En Composantes Principles Par Rapport Aux Distributions Der Precipitations En Indonesie. Univ. Blaise Pascal, France. Rapport De Tage.
Titus, J. O., and S. R. Seidel. 1986. Overview of the Effect of Changing the Atmosphere, In Effect of Changes in Stratospheric Ozone and Global Climate. Vol 4.

Tidak ada komentar: